0
Dikirim pada 20 Desember 2012 di Artikel
0 Komentar | Dibaca 777 kali
Pake Iket Itu Gaul

Tidak sedikit orang yang menganggap mereka yang mengenakan iket atau totopong sebagai penganut aliran tertentu ataupun mereka yang memiliki ilmu gaib atau percaya pada hal-hal mistis. Itulah pandangan miring masyarakat tentang iket atau totopong (ikat kepala) selain dipandang kuno dan ketinggalan zaman.

Kain berbentuk bujur sangkar yang dikenakan kaum pria Sunda untuk menutupi kepala selain disebut iket juga dikenal dengan nama totopong atau destar. Kain iket berbentuk bujur sangkar berukuran 105 X 105 cm atau 90 X 90 cm.

Pada awalnya kain iket hanya mengenal dua warna, putih dan hitam. Warna putih diperuntukan bagi orang yang dianggap sepuh atau yang ditokohkan, sedangkan warna hitam untuk masyarakat biasa. Kemudian dengan semakin berkembangnya budaya, iket di setiap daerah mengenal berbagai motif, corak maupun warna sesuai identitas daerah.

Bahan dasar kain iket biasanya kain morin kasar berwarna polos (putih atau hitam) dengan pola hias pada bagian sisinya. Ragam hias yang ditampilkan biasanya modang atau cemungkiran (ornamen khusus atau simbol).


Menurut kebiasaan orang sunda iket terdiri dari empat jenis:

Iket Barangbang Semplak

Iket yang sangat sederhana dan mudah membentuknya. Ciri khas iket ini terletak pada bagian kain berbentuk segitiga yang menjuntai (jurai/cula badak) di belakang kepala yang menyerupai pelepah daun kelapa rebah.
Pengguna iket jenis ini biasanya mereka yang berprofesi pekerja yang membutuhkan waktu cepat dan ringkas, seperti petani, kusir delman, jawara atau jagoan, serta pedagang hewan (ayam, kerbau atau domba).

Iket Paros atau Parengkos

Iket ini dibentuk dengan cara dilipat dan diputar. Parengkos adalah menarik kain segitiga yang menjuntai ke belakang sehingga menutup bagian atas kepala, dan untuk menguatkannya ujung kain diikat di bagian belakang. Jenis iket ini paling banyak macamnya, ada parengkos nangka, parengkos jengkol, parengkos koncer, parengkos jahen dan lainnya. Iket jenis ini basanya dikenakan bagi mereka yang hendak bekerja, sekolah, beribadah dan kegiatan resmi.

Iket Kuda Ngencar

Iket ini bentuknya sangat sederhana karena berupa lilitan kain segi empat yang kemudian dibentuk menjadi segitiga dan diikat di bagian belakang, dan bagian atas dibiarkan terbuka. Jenis iket ini biasa dikenakan anak-anak muda yang hendak bepergian jauh, seperti banyak dilakukan warga Baduy luar.

Iket Porteng

Jenis iket ini sangat berbeda dengan jenis iket lainnya. Bentuknya seperti mengenakan sorban dengan bagian atas kepala terbuka. Pada bagian depan maupun belakang tidak terdapat hiasan berupa jurai atau cula badak.  Pada Iket Porteng diperkuat tanpa ikatan melainkan dengan cara menyelipkan ujung kain lilitan di bawah lilitan kain.   

Selain ke empat jenis dan bentuk tersebut di atas, sebenarnya di sejumlah daerah lain masih dikenal berbagai istilah seperti badak heuay, julang ngapak, kekeongan, tanduk uncal, talingkup dan banyak lagi lainnya.


Dikirim pada 20 Desember 2012 di Artikel
0 Komentar
Dikirim pada 20 Desember 2012 di Artikel
2 Komentar | Dibaca 3013 kali
Filosofi Iket Sunda

Pernah menyaksikan pagelaran wayang golek dalam budaya sunda? Didalamnya selalu dihiasi dengan kejenakaan 3 tokoh punakawan. Sebutlah cepot, dawala dan gareng. Cepot merupakan tokoh yang paling terkenal diantara ketiganya. Dan merupakan ciri khas dari Cepot adalah kulit berwarna merah, gigi tonggos dan tak lupa selalu menggunakan tutup kepala yang disebut sebagai iket.

Iket dalam budaya sunda memiliki filosofi tersendiri, disebut Makutawangsa :

“sing saha bae anu make iket ieu, maka dirina kudu ngalakonkeun Pancadharma….“
artinya : “barang siapa yang menggunakan iket ini, harus menjalankan Pancadharma…

Hukum Pancadharma:

  • Apal jeung hormat ka Purwadaksi Diri (Menyadari dan menghormat kepada asal usul diri).
  • Tunduk kana HUukum jeung Aturan (Tunduk akan hukum dan tata tertib/aturan).
  • Berilmu (Dilarang Bodoh)
  • Mengagungkan Sang Hyang Tunggal (Sang pencipta, Tuhan yang Maha Esa).
  • Berbakti kepada BANGSA dan NEGARA.

Digambarkan tahapan iket Makutawangsa. Pada tahap pertama disebut OPAT KA LIMA PANCER, dapat juga diartikan diri menyatu dengan unsur-unsur utama alam: Angin, Cai (Air), Taneuh (Tanah) dan Seuneu (Api). Kemudian segiempat tadi dilipat menjadi bentuk segitiga yang merupakan refleksi Diri, Bumi dan Negeri. Refleksi ini dikenal dengan sebutan TRITANGTU dalam falsafah sunda. Kemudian lakukan lipatan sebanyak lima kali, disebut sebagai PANCANITI.

  • Niti Harti (Tahap mengerti)
  • Niti Surti (Taham memahami)
  • Niti Bukti (Tahap membuktikan)
  • Niti Bakti (Tahap membaktikan)
  • Niti Jati (Tahap kesejatian, manunggal dengan sang pencipta)

Filosofi diatas adalah pemahaman pribadi mengenai filosofi iket sunda.

Budaya mengalami perkembangan. Termasuk dalam jenis-jenis iket sendiri. Adalah Mochamad Asep Hadian Adipraja, saya sebut sebagai seorang pemerhati iket sunda. Saya mengenal Kang Asep dari seorang teman yang gemar dengan kebudayaan sunda. Dan sampai saat ini Kang Asep masih mengumpulkan rupa-rupa iket yang ada di Nusantara. Kang Asep dalam blognya pulasaraiket menganalisa bahwa iket dapat digolongkan menjadi dua model utama :

  • Rupa Iket Buhun; adalah rupa iket yang sudah terdapat di kampung-kampung adat, dan sudah menjadi pola kebiasaan sehari-hari dalam penggunaannya tanpa tercampur oleh budaya atau elemen dari luar.
  • Rupa Iket Reka-an; adalah rupa iket hasil karya dari pribadi dengan kreasi yang disukainya, namun pada prinsipnya adalah tetap menggunakan kain segiempat.

Berikut adalah rupa iket yang berhasil dikumpulkan :

RUPA IKET BUHUN

Parekos Jéngkol; Parekos Nangka; Barangbang Semplak; Julang Ngapak; Koncér; Kuda Ngencar; Lohen; Kebo Modol; Kolé Nyangsang; Buaya Ngangsar; Porténg; Parekos Gedang ( Kampung Ciptagelar ); Ki Parana ( Kampung Ciptagelar ); Udeng ( Kampung Ciptagelar ); Pa’tua ( Kampung Ciptagelar ); Babarengkos ( Kampung Ciptagelar ); Iket Adat Kampung Ciptagelar 1 ( Kampung Ciptagelar ); Iket Adat Kampung Naga 1; Iket Adat Kampung Naga 2; Iket Adat Kampung Dukuh; Iket Adat Kampung Cikondang 1; Iket Adat Rancakalong;

RUPA IKET RÈKA-AN

Parékos Candra Sumirat; Parékos Maung Leumpang; Parékos Batu Amparan; Parékos Dua Adegan; Parékos KiPahare; Kujang Dua Papasangan; Parékos Jeulit Danas.

 

 

 

 


Dikirim pada 20 Desember 2012 di Artikel
2 Komentar
Dikirim pada 20 Desember 2012 di Uncategories
0 Komentar | Dibaca 248 kali
Ini adalah postingan pertamaku saat bergabung bersama Blog di myPangandaran, sebuah situs Informasi Terlengkap tentang Pangandaran dan Sekitarnya yang didalamnya ada fasilitas untuk membuat
blog. Kedepan InsyaAllah saya akan coba terus menulis di blog tercinta saya ini tentang sesuatu yang bermanfaat bagi dunia. Semoga tulisan awal ini menjadi langkah penting dalam memulai kreasi saya didunia maya khususnya di blog saya ini. Kunjungi kembali blog saya beberapa waktu kedepan untuk melihat tulisan saya.
Dikirim pada 20 Desember 2012 di Uncategories
0 Komentar
Copyright © 2012 myPangandaran.com